Selama 18 tahun, masyarakat Desa Lela dan sekitarnya di Kabupaten Sikka, NTT, sangat merindukan fasilitas kesehatan memadai hadir.
Sebuah penantian panjang yang kini berakhir manis dengan diresmikannya Puskesmas Nanga. Peresmian ini bukan hanya sekadar seremoni pembukaan gedung, melainkan simbol harapan baru bagi ribuan warga untuk mendapatkan akses layanan kesehatan yang lebih baik, merata, dan berkelanjutan, menjawab dahaga akan fasilitas medis yang telah lama dinanti.
Dapatkan rangkuman informasi menarik dan terpercaya seputar Nusa Tenggara yang siap memperluas wawasan Anda, hanya di Nusa Tenggara Indonesia.
Mimpi yang Terwujud, Peresmian Puskesmas Nanga
Pada Selasa, 20 Januari 2026, Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, secara resmi meresmikan UPT Puskesmas Nanga di Desa Lela, Kecamatan Lela. Momen bersejarah ini menandai titik balik penting bagi masyarakat setempat yang telah menantikan fasilitas kesehatan selama hampir dua dekade. Kehadiran puskesmas ini diharapkan dapat menjadi pilar utama dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Juventus Prima Yoris Kago menyampaikan bahwa peresmian Puskesmas Nanga melampaui sekadar pembangunan infrastruktur. Ini adalah wujud komitmen pemerintah daerah untuk menyediakan layanan kesehatan yang optimal bagi warganya. “Pembangunan fasilitas kesehatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan setiap orang untuk hidup sehat,” ujarnya.
Pembangunan Puskesmas Nanga ini sejalan dengan visi pemerintah daerah untuk terus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Bupati juga menekankan pentingnya dukungan dan partisipasi aktif dari warga dalam membangun budaya hidup sehat. Ini adalah sinergi antara pemerintah dan masyarakat demi mewujudkan lingkungan yang lebih sehat.
Standar Nasional Untuk Pelayanan Terbaik
Puskesmas Nanga tidak hanya sekadar bangunan baru, tetapi merupakan puskesmas prototipe yang dibangun sesuai standar Kementerian Kesehatan. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus, menjelaskan bahwa desain prototipe ini menjamin kualitas pelayanan yang setara dengan standar nasional. Harapannya, masyarakat dapat menikmati layanan kesehatan yang bermutu tinggi.
Wilayah kerja Puskesmas Nanga sangat luas, mencakup sembilan desa, yaitu Lela, Sikka, Iligai, Hepang, Korowuwu, Kolidetung, Watutedang, Baopaat, dan Du. Dengan total populasi mencapai 12.165 jiwa, keberadaan puskesmas ini menjadi krusial dalam menjangkau layanan kesehatan hingga pelosok desa. Ini adalah langkah besar menuju pemerataan akses kesehatan.
Pembangunan gedung puskesmas dengan standar prototipe ini memiliki tujuan mulia, agar setiap pelayanan kesehatan yang diberikan memenuhi standar nasional. Hal ini akan memastikan bahwa masyarakat memperoleh layanan yang berkualitas, aman, dan bermartabat. Dana Alokasi Khusus (DAK) senilai Rp 6.034.480.700 menjadi sumber pendanaan utama untuk proyek vital ini.
Baca Juga: Kasus Pemerkosaan Siswi SMA di Belu Naik Penyidikan, Polisi Masih Buru Pelaku
Tantangan SDM, Kekurangan Dokter Di Tengah Optimisme
Di balik kegembiraan peresmian, terdapat tantangan serius terkait ketersediaan sumber daya manusia. Petrus Herlemus mengungkapkan bahwa Puskesmas Nanga didukung oleh 81 tenaga kesehatan, yang terdiri dari 41 PNS, 24 PPPK, dan 16 PPPK paruh waktu. Jumlah ini menunjukkan komitmen untuk mengisi posisi tenaga kesehatan secara optimal.
Namun, Herlemus secara jujur mengakui adanya keterbatasan tenaga dokter. Sejak Oktober 2025, Puskesmas Nanga belum memiliki dokter tetap. Kondisi ini menjadi perhatian serius yang perlu segera diatasi agar pelayanan medis dapat berjalan maksimal. Kehadiran dokter adalah kunci utama dalam operasional puskesmas.
Selama tiga bulan terakhir, pelayanan dokter dilakukan melalui konsultasi dengan dokter dari Puskesmas Koting. Solusi sementara ini memang membantu, namun keberadaan dokter tetap di Puskesmas Nanga sangat esensial untuk memberikan pelayanan yang komprehensif dan responsif. Pemerintah daerah diharapkan dapat segera mengatasi kekurangan ini.
Harapan Pelayanan Optimal Dan Senyum Nakes
Bupati Juventus Prima Yoris Kago mengingatkan seluruh tenaga kesehatan untuk senantiasa memberikan pelayanan secara optimal kepada masyarakat. “Melayani masyarakat harus dengan senyum dan pikiran yang sehat, supaya pasien merasa nyaman, seperti berada di rumah sendiri,” pesan Bupati. Sikap ramah dan empati adalah kunci utama dalam memberikan layanan kesehatan yang prima.
Filosofi pelayanan dengan senyum dan pikiran yang sehat ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan puskesmas yang hangat dan nyaman bagi pasien. Hal ini penting untuk menghilangkan kesan kaku atau menakutkan yang terkadang melekat pada fasilitas kesehatan. Rasa nyaman pasien akan mempercepat proses penyembuhan dan membangun kepercayaan.
Dengan diresmikannya Puskesmas Nanga, masyarakat Sikka kini memiliki harapan besar akan peningkatan kualitas kesehatan mereka. Dukungan penuh dari pemerintah daerah, komitmen tenaga kesehatan, dan partisipasi aktif masyarakat akan menjadi pilar keberhasilan dalam mewujudkan visi kesehatan yang lebih baik di Kabupaten Sikka.
Pantau terus kabar terbaru Nusa Tenggara Indonesia beserta informasi menarik lainnya untuk memperkaya wawasan Anda.
- Gambar Utama dari regional.kompas.com
- Gambar Kedua dari florespos.net

