Wilayah pesisir Nusa Tenggara Timur berada dalam status waspada setelah BMKG memprediksi potensi banjir rob dalam beberapa hari ke depan.
Kondisi ini diperkirakan terjadi akibat kombinasi faktor pasang air laut maksimum dan pengaruh fenomena astronomis yang dapat meningkatkan ketinggian permukaan air laut secara signifikan. Masyarakat yang tinggal di daerah rendah dekat pantai diimbau untuk lebih berhati-hati karena genangan air laut berpotensi mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk kegiatan ekonomi. Simak selengkapnya hanya di Nusa Tenggara Indonesia.
Banjir Rob Ancam Pesisir Nusa Tenggara
Wilayah pesisir Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menjadi perhatian setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi banjir rob yang diperkirakan terjadi pada 22 hingga 24 Maret 2026. Fenomena ini diprediksi dapat mengganggu aktivitas masyarakat di sejumlah kawasan pesisir yang tersebar di berbagai pulau di NTT.
BMKG mengimbau masyarakat pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap naiknya permukaan air laut yang dapat merendam kawasan rendah. Kondisi ini tidak hanya berpotensi mengganggu aktivitas harian, tetapi juga dapat berdampak pada sektor ekonomi masyarakat pesisir seperti perikanan dan pelabuhan.
Peringatan ini dikeluarkan berdasarkan analisis dinamika laut dan atmosfer yang menunjukkan adanya potensi peningkatan pasang air laut dalam beberapa hari ke depan. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tetap mengikuti informasi resmi dari BMKG guna menghindari risiko yang tidak diinginkan.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026! Nonton Semua Pertandingan Tanpa Batas, lewat LIVE STREAMING GRATIS di Aplikasi Shotsgoal. Ayo Download Sekarang!
Wilayah Pesisir Yang Berpotensi Terdampak
BMKG menyebutkan bahwa beberapa wilayah pesisir di NTT memiliki potensi terdampak banjir rob pada periode tersebut. Daerah yang masuk dalam kategori waspada meliputi pesisir Pulau Flores, Alor, Sumba, Sabu-Raijua, serta Timor dan Rote.
Wilayah-wilayah ini dikenal memiliki garis pantai yang cukup panjang dan banyak permukiman masyarakat yang berada dekat dengan bibir pantai. Kondisi ini membuat risiko genangan air laut menjadi lebih tinggi saat terjadi pasang maksimum.
Selain itu, aktivitas masyarakat di kawasan pesisir seperti pelabuhan, tambak garam, serta perikanan darat juga berpotensi terdampak. Gangguan terhadap aktivitas ini dapat memberikan efek lanjutan pada perekonomian lokal jika kondisi banjir rob berlangsung cukup lama.
Baca Juga: Langkah Mengejutkan Bupati Ngada Usai Temuan Inspektorat NTT Soal Sekda
Penyebab Terjadinya Fenomena Banjir Rob
Menurut BMKG, fenomena banjir rob ini dipicu oleh beberapa faktor astronomis dan meteorologis yang terjadi secara bersamaan. Salah satunya adalah fase bulan baru yang terjadi pada 19 Maret 2026 serta fase perigee pada 22 Maret 2026 yang membuat posisi bulan lebih dekat ke bumi.
Kondisi tersebut berpengaruh terhadap peningkatan gaya tarik gravitasi yang dapat menyebabkan naiknya permukaan air laut secara signifikan. Akibatnya, air laut berpotensi meluap ke daratan terutama di wilayah pesisir yang rendah.
Selain faktor astronomis, kondisi cuaca seperti kecepatan angin, tinggi gelombang, serta potensi hujan sedang hingga lebat juga turut memperkuat dinamika laut di wilayah NTT. Kombinasi faktor-faktor ini membuat risiko banjir rob menjadi lebih tinggi dari biasanya.
Dampak terhadap Masyarakat
BMKG telah mengeluarkan peringatan dini banjir rob yang berlaku mulai 22 hingga 24 Maret 2026 sebagai langkah antisipasi. Masyarakat diminta untuk selalu waspada, terutama yang tinggal di wilayah pesisir yang rawan genangan air laut.
Selain itu, BMKG juga mengingatkan pengguna transportasi laut untuk berhati-hati terhadap potensi gelombang tinggi yang diperkirakan mencapai 2,5 hingga 4,0 meter di beberapa perairan sekitar NTT. Kondisi ini dapat membahayakan aktivitas pelayaran dan nelayan tradisional.
Masyarakat diharapkan mengikuti informasi resmi dari BMKG secara berkala agar dapat mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi. Dengan kesiapsiagaan yang baik, risiko kerugian akibat banjir rob diharapkan dapat diminimalkan dan aktivitas masyarakat dapat tetap berjalan dengan aman.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari detik.com

