Pulau Padar, Taman Nasional Komodo, yang biasanya ramai oleh keindahan alam, kini menyisakan kisah duka yang sangat mendalam.
Insiden tenggelamnya kapal pinisi Putri Sakinah telah merenggut kebahagiaan sebuah keluarga, meninggalkan luka yang tak terhapuskan. Keluarga korban, yang salah satunya adalah pelatih sepak bola Valencia, Fernando Martin Carreras, datang ke Pantai Pink.
Di pasir merah muda yang indah itu, mereka mengukir nama-nama orang terkasih, sebuah penghormatan yang menyayat hati di lokasi yang menjadi saksi bisu tragedi. Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Nusa Tenggara di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Nusa Tenggara Indonesia.
Jejak Duka Di Pasir Merah Muda
Pada Kamis (1/1/2026), Pantai Pink menjadi saksi bisu duka mendalam. Keluarga Fernando Martin Carreras tiba di sana, tempat di mana mereka menuliskan nama-nama korban. Tragedi ini menimpa satu keluarga asal Spanyol: Fernando, pelatih Tim B sepak bola Wanita Valencia C, bersama tiga anaknya. Mereka adalah bagian dari musibah tenggelamnya kapal pinisi.
Keempat korban yang namanya ditulis adalah Fernando dan ketiga anaknya. Dari ketiga anak tersebut, dua berjenis kelamin laki-laki dan satu perempuan. Istri Fernando dan anak bungsu mereka berhasil selamat dari insiden mengerikan kapal wisata ini, menyisakan duka mendalam bagi anggota keluarga yang hilang.
Anak perempuan berinisial L, berusia 12 tahun, telah ditemukan. Namun, Fernando serta kedua anak laki-lakinya, M (9) dan K (10), masih dalam pencarian. Proses pencarian intensif terus dilakukan oleh tim SAR gabungan, berharap dapat menemukan korban yang belum ditemukan.
Penghormatan Tulus Dari Sang Ipar
Penulisan nama korban ini dilakukan oleh Alvaro Ortunoripoll, ipar Fernando, yang merupakan kakak dari istri Fernando yang selamat. Alvaro mengukir nama keempat korban saat rombongan keluarga singgah di Posko Tim SAR gabungan. Posko ini terletak di Pos Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Pulau Padar, milik Balai Taman Nasional Komodo (BTNK), di Pulau Padar bagian utara.
Setibanya di tepi pantai, Alvaro menjauh dari rombongan, mencari momen privasi untuk mengenang orang-orang terkasihnya. Ia berjongkok membelakangi laut lepas, menggunakan jari telunjuk tangan kanannya untuk menuliskan nama panggilan para korban di pasir. Nama Fernando diwakili dengan inisial F.
Masih dalam posisi jongkok, Alvaro menatap tulisan tersebut beberapa saat, meresapi setiap kenangan. Ia kemudian berdiri, kembali memandangi nama-nama yang tertulis, kali ini menghadap ke laut lepas. Setelah itu, Alvaro mengambil ponsel dari saku celana pendeknya, merekam tulisan yang penuh makna tersebut, mengabadikan momen duka dan penghormatan.
Baca Juga: Tradisi Cium Hidung di NTT, Lambang Persatuan dan Warisan Budaya
Ombak Yang Menghapus, Kenangan Yang Kekal
Tak lama berselang, ombak kecil secara perlahan menyapu dan menghapus jejak-jejak tulisan di pasir. Fenomena alam ini menjadi metafora akan kerapuhan hidup, namun juga kekekalan kenangan yang takkan pudar. Alvaro kemudian kembali bergabung dengan rombongan, melanjutkan perjalanan menuju Posko Tim SAR.
Selama berada di Posko, keluarga Fernando sempat berbincang dengan sejumlah personel Tim SAR gabungan yang baru kembali dari operasi pencarian korban. Pertukaran informasi dan harapan menjadi bagian dari momen berat ini. Keluarga juga makan siang di Posko, sebelum melanjutkan perjalanan dengan kapal Polri.
Tujuan selanjutnya adalah lokasi tenggelamnya kapal, untuk melihat langsung tempat di mana tragedi itu terjadi. Aksi Alvaro menulis nama korban di pasir pink Pulau Padar kemudian dikonfirmasi singkat olehnya. “Yes,” ujarnya, sebuah jawaban yang menyimpan seribu makna kesedihan dan penghormatan.
Sebuah Pelajaran Dari Tragedi
Insiden tenggelamnya kapal pinisi Putri Sakinah ini menjadi pengingat penting akan risiko perjalanan laut, terutama di daerah dengan kondisi geografis yang menantang. Keselamatan maritim harus selalu menjadi prioritas utama bagi operator wisata dan pihak berwenang. Ini demi mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.
Bagi keluarga yang berduka, Pantai Pink akan selalu menjadi tempat dengan kenangan pahit namun juga indah. Pasir merah muda yang lembut itu kini menyimpan kisah cinta dan kehilangan, serta menjadi saksi bisu dari upaya terakhir sebuah keluarga untuk mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang tercinta mereka.
Tragedi ini juga menyoroti pentingnya dukungan komunitas dan respons cepat dari tim SAR dalam menghadapi bencana. Solidaritas yang ditunjukkan oleh tim penyelamat dan masyarakat sekitar memberikan sedikit penghiburan di tengah duka mendalam yang dialami keluarga korban.
Jangan lewatkan update berita seputaran Nusa Tenggara Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari travel.detik.com
- Gambar Kedua dari travel.detik.com

