Sebuah mayat laki‑laki ditemukan terdampar di Pantai Laja’a, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, pihak kepolisian menduga mayat nelayan.
Penemuan mayat yang terdampar di pesisir Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan menarik perhatian masyarakat dan aparat keamanan beberapa hari terakhir. Warga setempat menemukan jasad laki‑laki tanpa identitas dalam kondisi membengkak dan tanpa pakaian di Pantai Laja’a, Desa Lamantu.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Nusa Tenggara di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Nusa Tenggara Indonesia.
Penemuan Mayat di Pantai Laja’a
Penemuan mayat tersebut pertama kali dilaporkan oleh warga serta nelayan setempat pada Minggu, 15 Februari 2026. Mayat pria itu ditemukan tergeletak di bibir pantai, dalam kondisi yang sudah membengkak dan tanpa mengenakan pakaian. Kepolisian setempat segera melakukan evakuasi bersama tim terkait untuk memastikan kondisi dan identitas korban.
Menurut informasi awal, mayat tersebut memiliki tinggi sekitar 156 sentimeter. Tidak ditemukan barang atau tanda khusus yang bisa langsung mengidentifikasi siapa korban sebenarnya. Kondisi tubuh yang telah membusuk juga menghambat upaya identifikasi visual di lapangan.
Proses awal identifikasi kemudian diserahkan kepada pihak keluarga dan instansi berwenang untuk menentukan langkah selanjutnya. Polisi kemudian menghubungi sejumlah pihak terkait untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai sosok yang ditemukan.
Dugaan Korban Nelayan Hilang Asal NTT
Pihak kepolisian sempat menduga bahwa mayat tersebut adalah La Ode Alamin, 31 tahun, seorang nelayan asal Kampung Bekek, Desa Tadho, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. La Ode sebelumnya dilaporkan hilang sejak 3 Februari 2026 saat pergi memancing tuna menggunakan sampan di perairan Riung.
Laporan hilangnya La Ode sempat membuat keluarga dan warga sekitarnya melakukan pencarian mandiri, namun tidak membuahkan hasil hingga akhirnya mayat ditemukan di Selayar. Lokasi titik memancing La Ode diketahui berbatasan langsung dengan perairan Kepulauan Selayar, sehingga ada kemungkinan korban hanyut ke wilayah tersebut sebelum ditemukan.
Kepolisian kemudian menginformasikan penemuan mayat kepada keluarga La Ode, membuka peluang bahwa korban memang bisa jadi nelayan yang hilang, meskipun identifikasi lebih lanjut masih diperlukan.
Baca Juga: Geger! Dua Santriwati Jadi Korban, Pimpinan Ponpes Nyaris Lolos ke Luar Negeri
Penolakan Keluarga dan Hambatan Identifikasi
Meski polisi menduga kuat bahwa mayat tersebut adalah La Ode, pihak keluarga menolak klaim itu. Keluarga, termasuk istri dan bapak mertua La Ode, menyatakan bahwa mayat tersebut bukan La Ode karena tidak ditemukan salah satu ciri khasnya: gelang tangan yang terbuat dari akar bahar. Menurut keluarga, gelang tersebut selalu dikenakan La Ode dan menjadi ciri yang tak bisa dihapus.
Kondisi mayat yang sudah membengkak dan rusak akibat paparan air laut membuat identifikasi visual sangat sulit dilakukan. Tidak ada barang pribadi lain yang ditemukan pada jasad yang bisa memperkuat dugaan identitasnya. Oleh karena itu, keluarga menolak pengakuan awal tersebut dan masih berharap bahwa La Ode masih hidup atau ditemukan dalam keadaan lain.
Polisi kemudian menjelaskan bahwa satu‑satunya cara untuk memastikan identitas yang pasti adalah melalui tes DNA, namun hingga kini keluarga belum berencana menempuh jalur tersebut karena masih berharap La Ode dapat ditemukan hidup.
Proses Pemakaman dan Koordinasi Pihak Berwenang
Mengingat kondisi mayat yang sudah membusuk dan menimbulkan bau, pihak kepolisian bersama pemerintah setempat menyepakati pemakaman jasad tersebut di Kepulauan Selayar. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan faktor kesehatan serta kondisi lingkungan, meskipun identitas korban masih belum jelas.
Polsek Riung pun terus berkoordinasi dengan Polsek Pasimarannu di Selayar untuk mencari petunjuk lain yang dapat membantu proses identifikasi atau memberikan informasi tambahan terkait sang nelayan yang hilang. Kerja sama ini menjadi krusial untuk memastikan siapa sebenarnya korban dan mengapa kejadian ini bisa terjadi.
Sementara itu, pihak keluarga tetap menunggu perkembangan lebih lanjut dan belum mengambil langkah resmi dalam proses identifikasi forensik yang lebih mendalam.
Harapan dan Tantangan Pencarian di Laut
Kasus ini menunjukkan betapa beratnya tantangan dalam pencarian orang hilang di laut. Perairan yang luas, arus laut yang kuat, serta kondisi tubuh yang berubah setelah beberapa waktu di air menjadi hambatan besar. Tidak hanya itu, harapan keluarga yang ingin bukti jelas sering kali bertabrakan dengan kenyataan investigasi di lapangan.
Insiden seperti ini sering menyeret proses panjang antara laporan orang hilang, pencarian, hingga identifikasi korban. Keluarga dan aparat berwenang harus bersabar dan bekerja sama untuk mencari solusi terbaik, baik melalui forensik maupun koordinasi antarwilayah.
Kisah ini bukan hanya tentang satu nyawa yang ditemukan. Tetapi juga tentang tantangan manusia menghadapi alam luas dan ketidakpastian di laut yang tak bertepi. Luangkan waktu anda untuk membaca informasi terbaru dan terviral lainya hanya ada di Nusa Tenggara Indonesia.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari detikcom
- Gambar Kedua dari Tribun Jabar

