Seorang siswa SD di Sumba Barat Daya hilang setelah diterkam buaya saat mencari kepiting di sungai, Tim SAR dan warga melakukan pencarian.
Tragedi menimpa seorang siswa SD di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, ketika ia hilang terseret buaya saat mencari kepiting di sungai sekitar desanya. Kejadian ini menjadi perhatian warga dan aparat setempat, karena sungai yang biasanya ramai oleh aktivitas anak-anak tiba-tiba berubah menjadi lokasi berbahaya.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Nusa Tenggara di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Nusa Tenggara Indonesia.
Kronologi Kejadian
Peristiwa naas ini terjadi pada sore hari ketika siswa yang diketahui berusia 9 tahun pergi bersama beberapa temannya untuk mencari kepiting di pinggir sungai. Menurut keterangan saksi, anak itu tiba-tiba hilang dari pandangan teman-temannya. Beberapa saat kemudian, warga melaporkan adanya percikan air dan suara teriakan dari arah sungai.
Warga yang mendengar teriakan segera bergegas ke lokasi untuk menolong, namun arus sungai cukup deras dan kemungkinan keberadaan buaya membuat situasi semakin berbahaya. Tim SAR lokal pun langsung dikerahkan untuk melakukan pencarian, dibantu oleh warga desa yang mengenal kondisi sungai dengan baik.
Petugas kepolisian dan tim SAR menegaskan bahwa tindakan cepat sangat dibutuhkan karena buaya dapat bergerak cepat dan sulit diprediksi. Mereka menggunakan perahu, jaring, dan alat khusus untuk mencoba menemukan anak yang hilang.
Upaya Pencarian yang Intensif
Sejak laporan diterima, Tim SAR bersama aparat desa melakukan pencarian sepanjang aliran sungai. Mereka membagi tim menjadi beberapa kelompok untuk menutup kemungkinan anak tersebut terbawa arus jauh dari lokasi kejadian.
Selain pencarian di sungai, warga juga menyisir pinggir sungai dan area hutan sekitar. Banyak warga membawa lampu senter, alat bantu, bahkan makanan ringan untuk menjaga stamina tim pencari, karena pencarian diperkirakan berlangsung berjam-jam.
Kepolisian setempat menyatakan bahwa kondisi medan yang sulit dan risiko tinggi membuat pencarian berjalan lambat. Namun, koordinasi antara aparat dan warga berjalan baik, dengan komunikasi intens melalui pengeras suara dan radio komunikasi.
Baca Juga: Banjir Kembali Rendam Huntara Lewotobi, Bupati Soroti Solusi Darurat untuk Warga
Ancaman Buaya di Sumba Barat Daya
Kejadian ini menyoroti ancaman nyata buaya di wilayah Sumba Barat Daya, khususnya di sungai-sungai yang berdekatan dengan permukiman. Buaya air asin dan buaya muara memang dikenal sebagai predator yang agresif dan mampu menyerang manusia.
Masyarakat setempat mengaku sudah sering melihat jejak buaya di pinggir sungai, tetapi tidak menyangka serangan bisa menimpa anak-anak. Pemerintah desa sendiri sebelumnya sempat mengingatkan warga agar lebih berhati-hati, terutama saat anak-anak bermain di dekat sungai.
Ahli satwa lokal menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat tentang perilaku buaya, termasuk tanda-tanda keberadaan hewan ini dan cara menghindarinya. Dengan pemahaman ini, risiko serangan dapat diminimalkan.
Reaksi Warga dan Keluarga
Keluarga anak yang hilang terlihat cemas dan terus berdoa agar tim SAR segera menemukan anak mereka dalam keadaan selamat. Warga sekitar juga berkumpul di lokasi kejadian untuk membantu pencarian atau memberikan dukungan moral.
Beberapa warga membagikan pengalaman mereka terkait buaya, serta tips bagaimana menghadapi situasi darurat. Solidaritas antarwarga menjadi kekuatan utama dalam situasi genting ini, menunjukkan kepedulian tinggi terhadap keselamatan anak-anak.
Pihak sekolah juga menyatakan keprihatinan mendalam, dan mengimbau agar orang tua selalu mengawasi aktivitas anak-anak terutama saat berada di area berisiko tinggi.
Upaya Pencegahan Ke Depan
Kejadian tragis ini menjadi pembelajaran bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan keamanan di sekitar sungai. Rencana jangka pendek termasuk pemasangan papan peringatan dan patroli rutin oleh aparat desa.
Selain itu, edukasi kepada anak-anak tentang bahaya bermain di sungai juga menjadi prioritas. Sekolah dan pemerintah desa bekerja sama menyusun program pengawasan serta kegiatan alternatif yang aman bagi anak-anak.
Langkah jangka panjang yang disarankan oleh para ahli adalah pemetaan wilayah rawan buaya dan penyediaan jalur aman untuk aktivitas sehari-hari, sehingga risiko serangan dapat ditekan seminimal mungkin.
Luangkan waktu anda untuk membaca informasi terbaru dan terviral lainya hanya ada di Nusa Tenggara Indonesia.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detikcom
- Gambar Kedua dari Kompas Regional

