Kisah tragis pembunuhan mertua oleh menantu kembali mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), tepatnya di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Joni Ang (49), warga Desa Nakfunu, tega menghabisi nyawa ayah mertuanya, Efraim Mauboi (79). Peristiwa keji ini disusul drama pelarian dan penangkapan yang melibatkan ketegangan tinggi, bahkan upaya perlawanan dari pelaku yang bersembunyi di atas pohon.
Berikut ini, Nusa Tenggara Indonesia akan menyoroti kompleksitas masalah sosial dan keamanan di wilayah pedesaan, serta kesigapan aparat dalam menghadapi situasi genting.
Kronologi Pembunuhan Dan Pelarian Ke Hutan
Peristiwa pembunuhan yang menggemparkan ini terjadi pada Kamis (25/12/2025) sekitar pukul 20.00 Wita. Joni Ang, dengan tega menggunakan parang, menghabisi nyawa ayah mertuanya sendiri. Motif di balik perbuatan sadis ini masih menjadi misteri yang sedang didalami oleh pihak kepolisian.
Setelah melakukan aksi kejahatannya, Joni Ang segera melarikan diri ke dalam hutan. Ia membawa serta senjata tajam yang diduga digunakan untuk melakukan pembunuhan, yakni parang atau kelewang. Tindakan pelarian ini menyulitkan aparat kepolisian dan warga dalam upaya pengejaran yang dimulai segera setelah kejadian.
Kasat Reskrim AKP I Wayan Pasek Sujana menjelaskan bahwa pelaku melarikan diri sambil membawa senjata, mengindikasikan niatnya untuk tidak menyerahkan diri dengan mudah. Pengejaran yang dilakukan oleh aparat Polres TTS bersama warga setempat berlangsung intensif sejak Kamis malam, menunjukkan komitmen untuk segera menangkap pelaku.
Persembunyian Dramatis Di Atas Pohon
Upaya pencarian yang gigih akhirnya membuahkan hasil pada Jumat (26/12/2025) sekitar pukul 15.00 Wita. Keberadaan Joni Ang berhasil terlacak. Ia ditemukan bersembunyi di atas pohon taduk, tidak jauh dari kediamannya, sambil membawa sejumlah senjata tajam seperti parang, panah, dan tombak.
Situasi menjadi semakin menegangkan ketika aparat bersama masyarakat mencoba melakukan negosiasi agar pelaku menyerahkan diri secara baik-baik. Namun, upaya persuasif tersebut ditolak mentah-mentah oleh Joni Ang. Ia memilih untuk tetap bertahan di atas pohon dan bahkan sempat melakukan perlawanan terhadap warga dan polisi.
Negosiasi yang dipimpin langsung oleh Kapolres TTS, AKBP Hendra Dorizen, berlangsung hingga Jumat malam pukul 22.00 Wita. Sayangnya, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Demi keselamatan warga karena hari sudah larut, aparat dan masyarakat memutuskan untuk menghentikan sementara pencarian dan kembali ke kantor desa untuk beristirahat.
Baca Juga: Kabar Gembira Untuk Pekerja Dompu UMK 2026 Naik Jadi Rp2,75 Juta
Upaya Penangkapan Yang Penuh Ketegangan
Keesokan harinya, Sabtu (27/12/2025) sekitar pukul 07.00 Wita, warga kembali berhasil mendeteksi keberadaan pelaku. Joni Ang masih bertahan di atas pohon, menunjukkan determinasi yang luar biasa untuk menghindari penangkapan. Aparat Polres TTS kemudian melanjutkan upaya penangkapan dengan strategi yang lebih matang.
Dalam proses penangkapan tersebut, pelaku sempat kembali menyerang warga dan polisi. Momen ini menambah ketegangan dan menunjukkan betapa berbahayanya situasi yang dihadapi oleh tim gabungan. Kesigapan dan profesionalisme aparat kepolisian sangat diuji dalam menghadapi perlawanan dari pelaku yang bersenjata.
Akhirnya, berkat kerja keras dan koordinasi tim yang dipimpin langsung Kapolres TTS AKBP Hendra Dorizen, didampingi Wakapolres Kompol Ibrahim serta Kasat Reskrim AKP I Wayan Pasek Sujana, bersama tim Buser dan Intelkam Polres TTS, Joni Ang berhasil dibekuk sekitar pukul 09.00 Wita. Penangkapan ini mengakhiri drama pelarian yang berlangsung selama dua hari.
Proses Hukum Dan Pendalaman Motif
Setelah berhasil ditangkap, Joni Ang langsung dibawa ke Mako Polres TTS untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Pihak kepolisian saat ini masih terus mendalami motif sebenarnya di balik kasus pembunuhan tragis ini. Berbagai kemungkinan, termasuk masalah keluarga atau faktor lain, akan diungkap melalui proses penyelidikan.
Kasus menantu bunuh mertua ini menjadi perhatian serius bagi masyarakat dan aparat penegak hukum di NTT. Pendalaman motif sangat penting untuk memahami akar permasalahan dan mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Keterangan dari pelaku dan saksi-saksi akan menjadi kunci dalam mengungkap kebenaran.
Penangkapan yang dipimpin langsung oleh jajaran pimpinan Polres TTS menunjukkan keseriusan dalam penanganan kasus ini. Proses hukum akan berjalan transparan dan adil, sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Masyarakat diharapkan tetap tenang dan mempercayakan penanganan kasus ini kepada pihak berwajib.
Jangan lewatkan update berita seputaran Nusa Tenggara Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
- Gambar Utama dari regional.kompas.com
- Gambar Kedua dari banten.akurat.co

