BMKG El Tari Kupang mengimbau masyarakat NTT waspada cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi.
BMKG El Tari Kupang mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem di Nusa Tenggara Timur (NTT). Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi yang diperkirakan hingga 17 Januari 2026. Situasi ini menuntut kesiapsiagaan seluruh elemen masyarakat, terutama yang tinggal di pesisir dan beraktivitas di laut.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Nusa Tenggara di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Nusa Tenggara Indonesia.
Peringatan Dini BMKG, Ancaman Hujan Lebat Dan Angin Kencang
BMKG El Tari Kupang menegaskan bahwa sebagian besar wilayah NTT berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Fenomena ini dapat disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat, terutama hingga 14 Januari 2026. Wilayah yang diwaspadai meliputi Flores, Pulau Timor, Lembata, Alor, hingga Pulau Sumba.
Kondisi cuaca ekstrem ini dipicu oleh menguatnya Monsun Asia yang meningkatkan suplai uap air di atmosfer. Selain itu, adanya pusat tekanan rendah di wilayah timur laut dan barat laut Australia turut berperan. Ini menyebabkan pertemuan dan perlambatan angin yang signifikan di wilayah NTT, memicu pembentukan awan hujan.
Fenomena atmosfer lainnya seperti Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Atmosfer Kelvin, serta gelombang atmosfer rendah juga aktif. Kombinasi faktor-faktor ini secara sinergis memperkuat pertumbuhan awan hujan. Masyarakat diminta untuk selalu memantau informasi terbaru dari BMKG dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang diperlukan.
Gelombang Tinggi Mengintai Perairan NTT
Selain ancaman di daratan, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini untuk gelombang tinggi di perairan NTT. Peringatan ini berlaku mulai 14 hingga 17 Januari 2026. Nelayan dan operator kapal diimbau untuk sangat berhati-hati saat beraktivitas di laut.
Gelombang kategori sedang dengan ketinggian antara 1,25 hingga 2,5 meter diprakirakan terjadi di beberapa wilayah. Ini termasuk Selat Sape, Perairan Flores, Selat Flores-Lamakera, Selat Pantar, Selat Alor, Selat Sumba, Laut Sawu, Selat Ombai, Selat Pukuafu, serta perairan sekitar Timor, Kupang-Rote, dan Sabu-Raijua.
Lebih lanjut, BMKG secara khusus mengingatkan akan potensi gelombang tinggi mencapai 2,5 hingga 4 meter di Laut Sawu. Kondisi ini diprediksi terjadi pada 16 Januari 2026 pukul 08.00 Wita hingga 17 Januari 2026 pukul 08.00 Wita. Para pelaut di area tersebut disarankan untuk menunda pelayaran jika tidak mendesak.
Baca Juga: Polda NTT Pastikan 2 Tersangka Kasus Pelatih Valencia Belum Ditahan
Potensi Bahaya Lain Yang Perlu Diwaspadai
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kemunculan awan Cumulonimbus. Awan jenis ini dapat memicu hujan lebat, angin kencang, serta peningkatan tinggi gelombang secara tiba-tiba. Perubahan arah angin yang mendadak juga menjadi salah satu dampak dari awan Cumulonimbus yang perlu diantisipasi.
Angin kencang khususnya berpotensi terjadi di Kabupaten Ende selama masa peringatan dini ini. Kewaspadaan ekstra diperlukan oleh warga di daerah tersebut. Pohon tumbang dan kerusakan infrastruktur ringan bisa menjadi risiko yang perlu dipertimbangkan selama periode ini.
Oleh karena itu, nelayan, pelaku pelayaran, dan pengguna transportasi laut harus meningkatkan kewaspadaan mereka. Potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan gangguan aktivitas transportasi sangat mungkin terjadi. Kesiapsiagaan dan langkah mitigasi yang tepat sangat penting untuk mengurangi risiko.
Rekomendasi Dan Tindakan Pencegahan
Masyarakat dihimbau untuk secara rutin memantau informasi prakiraan cuaca dari sumber resmi BMKG. Informasi terbaru akan membantu dalam mengambil keputusan yang tepat terkait aktivitas sehari-hari, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor kelautan atau tinggal di daerah rawan bencana.
Pemerintah daerah dan instansi terkait juga diharapkan dapat menyosialisasikan peringatan ini secara luas. Edukasi mengenai langkah-langkah evakuasi dini dan penyiapan logistik darurat sangat krusial. Kolaborasi semua pihak akan memperkuat daya tahan masyarakat terhadap ancaman cuaca ekstrem.
Terakhir, mari bersama-sama menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan membersihkan saluran air. Tindakan sederhana ini dapat membantu mencegah banjir dan genangan. Kesiapsiagaan kolektif adalah kunci menghadapi potensi cuaca ekstrem yang sedang mengintai NTT.
Jangan lewatkan update berita seputaran Nusa Tenggara Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
- Gambar Utama dari rri.co.id
- Gambar Kedua dari kompas.tv

