Banjir merendam sekolah dasar di Sekotong, Lombok Barat, menyebabkan 387 siswa terpaksa diliburkan, kronologi banjir, dampak pendidikan,
Banjir kembali melanda wilayah Sekotong, Lombok Barat, dan berdampak langsung pada dunia pendidikan. Sejumlah sekolah dasar dilaporkan terendam air, memaksa pihak sekolah dan pemerintah setempat mengambil langkah cepat demi keselamatan siswa. Akibat kondisi tersebut, 387 siswa SD terpaksa diliburkan untuk sementara waktu.
Air banjir menggenangi ruang kelas, halaman sekolah, hingga fasilitas penunjang seperti perpustakaan dan ruang guru. Aktivitas belajar mengajar tidak memungkinkan untuk dilaksanakan karena kondisi sekolah yang basah, berlumpur, dan berpotensi membahayakan keselamatan siswa.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Nusa Tenggara di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Nusa Tenggara Indonesia.
Kronologi Banjir yang Merendam Sekolah
Banjir di Sekotong terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut selama beberapa jam. Curah hujan yang tinggi menyebabkan sungai meluap dan sistem drainase tidak mampu menampung debit air yang meningkat secara cepat.
Air mulai masuk ke lingkungan sekolah sejak dini hari, membuat pihak sekolah tidak sempat melakukan upaya penyelamatan fasilitas secara maksimal. Saat pagi hari, genangan air masih cukup tinggi sehingga sekolah dinyatakan tidak aman untuk digunakan.
Pihak sekolah kemudian berkoordinasi dengan dinas pendidikan setempat untuk mengambil keputusan cepat. Demi menghindari risiko kecelakaan dan menjaga keselamatan siswa, diputuskan bahwa kegiatan belajar mengajar diliburkan sementara.
Dampak Banjir terhadap Proses Belajar Siswa
Diliburkannya 387 siswa SD di Sekotong tentu membawa dampak signifikan terhadap proses pembelajaran. Anak-anak harus tertinggal materi pelajaran, terutama bagi siswa kelas akhir yang sedang mempersiapkan evaluasi akademik.
Selain kehilangan waktu belajar, kondisi banjir juga memengaruhi psikologis siswa. Lingkungan sekolah yang rusak dan suasana darurat dapat menimbulkan rasa cemas dan ketidaknyamanan, terutama bagi anak-anak usia sekolah dasar.
Guru dan orang tua kini dihadapkan pada tantangan untuk memastikan anak tetap belajar di rumah. Namun, tidak semua keluarga memiliki fasilitas atau pendampingan yang memadai, sehingga kesenjangan pembelajaran berpotensi semakin lebar.
Baca Juga: NTT Waspada! Cuaca Ekstrem Diprediksi Mengancam Hingga 17 Januari 2026
Langkah Sekolah dan Pemerintah Daerah
Pihak sekolah bersama pemerintah daerah segera melakukan pendataan kerusakan akibat banjir. Fokus utama adalah memastikan kondisi bangunan sekolah aman sebelum kembali digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Petugas kebersihan dan relawan mulai membersihkan lumpur serta sisa genangan air di ruang kelas. Peralatan belajar yang rusak juga didata untuk diajukan penggantian agar proses belajar dapat kembali normal secepat mungkin.
Dinas Pendidikan setempat menyatakan akan mencari solusi alternatif, termasuk kemungkinan pembelajaran sementara di lokasi lain atau penyesuaian kalender akademik. Langkah ini diambil agar hak siswa untuk mendapatkan pendidikan tetap terpenuhi meski dalam kondisi darurat.
Harapan dan Upaya Pencegahan ke Depan
Banjir yang merendam sekolah di Sekotong menjadi pengingat pentingnya kesiapan infrastruktur pendidikan terhadap bencana. Banyak pihak berharap adanya perbaikan sistem drainase dan penataan lingkungan sekolah agar kejadian serupa tidak terulang.
Selain perbaikan fisik, edukasi kebencanaan bagi siswa dan guru juga dinilai penting. Dengan pemahaman yang baik, warga sekolah dapat lebih siap menghadapi situasi darurat dan meminimalkan risiko saat bencana terjadi.
Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci utama. Dengan upaya pencegahan yang tepat, diharapkan proses belajar mengajar tidak lagi terganggu oleh bencana banjir yang kerap melanda wilayah tersebut.
Kesimpulan Banjir Merendam Sekolah
Banjir yang merendam sekolah dasar di Sekotong dan meliburkan 387 siswa SD menunjukkan betapa rentannya fasilitas pendidikan terhadap bencana alam. Keputusan meliburkan siswa merupakan langkah tepat demi keselamatan, namun juga menimbulkan tantangan besar bagi dunia pendidikan.
Penanganan darurat, perbaikan infrastruktur, dan langkah pencegahan jangka panjang menjadi hal yang sangat dibutuhkan. Dengan perhatian serius dari semua pihak, diharapkan sekolah dapat segera kembali beroperasi dan proses pendidikan siswa tidak terganggu lebih lama.
Luangkan waktu anda untuk membaca informasi terbaru dan terviral lainya hanya ada di Nusa Tenggara Indonesia.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detikcom
- Gambar Kedua dari Radar Mandalika

